Ujian Integritas Intelektual di Tengah Riuhnya Sindiran Publik

By Admin


Rocky Gerung/ Dok. YT Setpres

nusakini.com, Perjalanan seorang pemikir independen sering kali menemui persimpangan jalan yang mengubah pandangan masyarakat terhadapnya. Belakangan ini, publik disuguhkan dengan transformasi mengejutkan dari sosok pengkritik tajam yang kini bernaung di dalam istana.

Keputusan menduduki kursi penasihat kekuasaan memicu kekecewaan dari pihak-pihak yang dulu setia mengikuti retorikanya. Aktor muda Omara Esteghlal mewakili keheranan publik dengan menyoroti tajam hilangnya daya kritis sang figur.

Kekecewaan itu dituangkan dalam sebuah sindiran pedas mengenai perubahan drastis dalam bersikap. "Dulu teriak-teriak 'dungu dungu dungu', sekarang teriaknya 'dukung dukung dukung'," tulis Omara menyuarakan keresahannya di dunia maya.

Fenomena memudarnya narasi oposisi ini juga turut dirasakan oleh pekerja seni komedi, Pandji Pragiwaksono. Lewat cuitannya di periode yang sama, ia menyoroti ironi munculnya gelar juru bicara istana yang dialamatkan kepada sang akademisi.

Tekanan terhadap gaya komunikasi tokoh intelektual ini sebenarnya sudah terekam kamera saat berdiskusi di sebuah siaran televisi. Penggunaan diksi kasar membuat jurnalis Aiman Witjaksono harus turun tangan menegur etika sang tamu undangan kala itu.

Meski dihantam gelombang kekecewaan bertubi-tubi, sang akademisi tetap berdiri teguh pada pendirian yang diyakininya. Ia merasa tidak pernah kehilangan otonomi intelektualnya dalam membedah berbagai isu kenegaraan yang berkembang.

Keyakinan tersebut dibuktikannya lewat pernyataan berani yang seolah menantang penilaian masyarakat di masa depan. "Saya tunggu 10 tahun lagi, kalian akan minta maaf ke saya," ucapnya mantap merespons segala cibiran yang datang.

Kini waktu yang akan menjadi saksi atas jalan sunyi yang dipilih oleh pemikir kontroversial tersebut. Masyarakat umum hanya bisa menanti apakah nalar kritis itu masih menyala terang atau redup ditelan rutinitas negara. (*)